Blank On Computer
======Blank==On==Computer======

===========================
Selamat datang di Blank On Computer
===========================

=======================
Jangan lupa klik Pendaftaran ya
=======================

=========================================
Semua anggota baru masuk udah kami aktivkan akun nya .. Kalo ga bisa cek email silahkan buka 1 hari setelah pendaftaran .. =========================================


Terima kasih atas partisipasi kalian.. Moga Blank On Computer jadi Forum yg berguna bagi seluruh umat manusia ..


Blank On Computer Is Largest Forum Indonesia
 
IndeksPendaftaranLogin
Login
Username:
Password:
Login otomatis: 
:: Lupa password?
Online
Pencarian
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search

Share | 
 

 Digoda Mbakyu Penunggu Jembatan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Ilmy Koncek
Administrator
 Administrator


Aquarius Jumlah posting : 130
Join date : 14.12.11
Age : 24
Lokasi : Padang, Sumatera Barat

PostSubyek: Digoda Mbakyu Penunggu Jembatan    Fri Jan 20 2012, 22:32

Malam itu pertama kalinya Adi pulang tidak biasanya. Dia agak kemalaman.
Tidak seperti biasanya yang sampai di desanya sebelum maghrib. Namun
karena di terminal ada demo sopir bus, maka tidak ada satu pun bus bisa
ditumpanginya untuk pulang. Mau tidak mau dia pulang dengan jalan kaki.
Padahal, jarak yang harus ditempuh sekitar 5 kilometer!
“Sialan, jalannya gelap lagi, mana perut sudah lapar, jalannya agak
cepat deh biar cepat sampai warung pojok, ngopi dulu,” guman Adi sambil
membayangkan nyeruput kopi di warung pojok desa terdekat. Dengan langkah
panjang dan cepat Adi berjalan sambil
sesekali menengok jam tangannya yang waktu itu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB.
“Sial, kok warungnya tutup, payah.” gerutu Adi tak habis-habisnya. “Kalau gini bisa mati kehausan nih, motong jalan aja
deh, tapi hutan karet itu serem juga, ah cuek saja lah, mana ada hantu yang berani ganggu aku,” sesumbarnya.
Akhirnya dengan sedikit perasaan takut, Adi mengambil jalan pintas
melewati jalan setapak tengah perkebunan karet. Perkebunan karet itu
terletak di seberang desa Adi, namun sebelum melewatinya harus melalui
beberapa petak sawah dan menyeberang sungai kecil.
“Tumben malam ini kok sepi yah, ohhh ada hajatan di desa kulon nanggap wayang, pantesan banyak yang pada
nonton,” gumannya lagi.
Sesekali Adi memang bersenandung atau berguman ngomong sendiri, sekedar
menghilangkan rasa takutnya. Karena menurut cerita orang kampung hutan
karet itu cukup angker, sering ada suara-suara menakutkan dari
rerimbunan pohon tersebut, ah itu pasti hanya cerita
orang untuk menakuti anaknya saja. Memasuki hutan karet, Adi diam seribu
basa, tak hentinya mulutnya berguman melayangkan doa-doa untuk
menenangkan dirinya. Setelah beberapa saat Adi mulai melihat cahaya
lampu rumah, amin…, akhirnya sampai juga.
Tapi siapa itu, dilihatnya ada seorang wanita berjalan sendirian melewati jembatan, sambil menggendong bakul.
“Siapa yah, ohh mungkin itu penjual kacang godhog yang mau jualan di
wayangan, tapi boleh juga nih untuk ngisi perut sementara dari pada
keroncongan terus.” pikir Adi, karena dia masih harus melewati satu desa
lagi untuk sampai di rumahnya.
“Yu, mande kacang nggih, mbok kula tumbas sewu mawon (Yu, jualan kacang ya, saya beli ya),” ujar Adi pada wanita itu.
Wanita itu berhenti dan duduk meletakkan bakulnya di tanah sambil
membuka bakulnya dan menyerahkan sebungkus kacang yang masih mengepul
itu. “Kok mendel mawon to yu, nopo mboten kewengen medal sak niki (Kok
diam saja yu, apa tidak kemalaman lewat sini)?”.
Aneh, wanita itu cuma senyam-senyum saja, tanpa bicara sepatah kata pun. Tidak ada yang aneh sih, tapi
tiba-tiba bulu kuduk Adi merinding dan sepertinya tercium bau-bauan yang
wangi. “Atos-atos lho yu, kok wani to mlaku dewe nopo mboten wedi, kok
kulo rodho mrinding niki (ati-ati lho yu, kok berani jalan sendirian apa
tidak takut, kok saya rada merinding ini),” ujar Adi seraya memberikan
uang seribuan pada wanita tersebut.
Tiba-tiba saja ada angin mendesir pelan diiringi tawa cekikikan pelan dari mulut wanita cantik itu.
Dan wanita itu mendekat pada Adi, lalu… “Aku wedi mas, kancani aku yo…
(aku takut mas, temani aku yo)” tiba-tiba wanita itu ngomong dengan
suara serak seperti suara nenek-nenek sedang makan sirih, disertai
dengan tawa cekikikan.
Spontan Adi kaget dan ndredeg seluruh tubuh. Mau teriak tidak bisa, akhirnya saking kagetnya dia
pingsan ditempat itu juga. Keesokan paginya, Adi sudah berada di balai-balai rumah penduduk desa setempat, dia dikerumuni banyak
orang. “Kei ngobe wis sadar (kasih minum sudah sadar) ” ujar salah seorang bapak yang bernama Pak Panut.
“Nak, tadi malam kamu ditemukan oleh warga pingsan di dekat jembatan,
kamu kenapa,” tanya salah satu warga. Lalu tiba-tiba datang bapak dan
ibunya yang diberitahu oleh warga yang mengenal Adi sebagai anak dari
Pak Pardi warga kampung sebelah. “Ngopo kowe Di, kok ora mulih malah
turu kene (kenapa kamu Di, kok tidak pulang malah tidur disini),” tanya
ibunya cemas.
“Mboten nopo-nopo bu, Adi namung di weruhi mbakyu sing tunggu kali
(tidak apa-apa bu, adi cuma ditemui Mbakyu yang menunggu sungai),” ujar
pak Panut. Ternyata dia disapa oleh mbakyu demikian orang kampung biasa
memanggil sosok wanita penunggu sungai dan jembatan desa, namun mbakyu
tidak pernah membuat celaka hanya sebatas menggoda saja. Kapok deh,
sejak saat itu dia takut banget bila pulang kemalaman, lebih baik tidur
di kantor saja lah.



Add



Facebook
[You must be registered and logged in to see this image.]
Kembali Ke Atas Go down
http://blank-on.yourme.net
 
Digoda Mbakyu Penunggu Jembatan
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Blank On Computer :: Beranda :: Cerita Horor-
Navigasi: