Blank On Computer
======Blank==On==Computer======

===========================
Selamat datang di Blank On Computer
===========================

=======================
Jangan lupa klik Pendaftaran ya
=======================

=========================================
Semua anggota baru masuk udah kami aktivkan akun nya .. Kalo ga bisa cek email silahkan buka 1 hari setelah pendaftaran .. =========================================


Terima kasih atas partisipasi kalian.. Moga Blank On Computer jadi Forum yg berguna bagi seluruh umat manusia ..


Blank On Computer Is Largest Forum Indonesia
 
IndeksPendaftaranLogin
Login
Username:
Password:
Login otomatis: 
:: Lupa password?
Online
Pencarian
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search

Share | 
 

 Berkelana di Alam Arwah Tapal Batas

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Ilmy Koncek
Administrator
 Administrator


Aquarius Jumlah posting : 130
Join date : 14.12.11
Age : 24
Lokasi : Padang, Sumatera Barat

PostSubyek: Berkelana di Alam Arwah Tapal Batas    Fri Jan 20 2012, 22:32

Di sini, di tapal batas Desa Sidosari. Tiba-tiba Virga berdiri di tengah
jalan. Suasana lengang dan sepi. Tidak terlihat seorang pun yang berani
lewat, karena itu Virga hanya duduk termangu seorang diri. Sesaat
lewatlah serombongan orang dari arah utara. Banyak sekali jumlah mereka.
Mungkin sampai ratusan!
Perasaan Virga tiba-tiba bergidik. Ternyata pakaian yang dikenakan
orang-orang itu sangat lusuh dan warnanya sama. Hitam-hitam. Semuanya
berambut terbuka, tidak terlihat satupun yang memakai kopyah. Anehnya,
ada beberapa orang perempuan ikut dalam rombongan. Rambut mereka
tergerai, panjang mencapai punggung. Anehnya, potongan rambut dan tinggi
mereka sama.
Sementara detak jantung Virga semakin berdetak cepat, berpacu alam
kepanikan. Pikirannya menangkap keanehan dengan apa yang ada
dihadapannya. Segerombolan orang-orang aneh. Tidak ada seorang pun
diantara mereka berkata-kata. Semua terdiam seperti membeku. Warnadi
sendiri tidak menyapa. Dia merasa sedang melihat orang asing.
“Ah, mimpi apa kenyataan yang saya lihat ini ?,” pekik hatinya sambil
berulang kali matanya dikucek-kucek, menguji kesadarannya. Tidak. Aku
tidak lagi mimpi. Ini semua kenyataan. Apa yang saya lihat benar-benar
nyata! “Lalu, siapa mereka ?,” bisik batinnya.
Belum habis keraguan Virga, di tengah-tengah barisan manusia-manusia
aneh itu, dia melihat sebuah peti bercat hitam pekat diusung oleh 10
orang. Pakaian yang mereka kenakan sama, tidak ada bedanya antara
pengusung peti mati dengan iring-iringan para pelayat itu. Arah mereka
menuju ke selatan. Entah ke mana tujuan rombongan manusia aneh itu.
“Tidak mungkin. Tidak mungkin menuju kuburan. Kuburan Sentana ada di
sebelah barat desa. Di selatan sana tidak ada kuburan,”. Lalu untuk apa
rombongan membawa peti mati ke arah sana? Virga tercekat seribu
pertanyaan. Akal sehatnya masih terus bertanya-tanya, gerangan apa yang
dia saksikan itu? Sementara iring-iringan pembawa peti mati berjalan
cepat.
“Ayo anak muda! Jangan berdiri sendirian. Ayo…!,” tiba-tiba salah
seorang pengirim bicara padanya. Belum tahu maksud ajakan itu, tangan
kanan pria berumur sekitar 60 tahun itu, langsung menyambar tangan
Virga. Dan, menggelendangnya membaur dalam rombongan.
Sekejab kedua kaki Virga melangkah berirama dengan kaki-kaki orang-orang
itu. Keanehan segera dia rasakan. Ternyata langkah kaki Virga serasa
ringan sekali. Ringan, seakan-akan tidak membawa beban berat tubuhnya.
Langkah seperti kapas, melayang-layang agak naik ke udara. Kedua kakinya
dia rasakan sudah tidak lagi menjamah tanah.
“Tahan! Hentikan-hentikan. Jangan bawa aku! Siapa kalian Pak Tua,”
teriak Virga meminta agar orang yang dia sebut pak Tua itu melepaskan
cekalan tangannya. Berulang kali dia berteriak, tidak seorang pun
diantara mereka mendengar teriakannya. Bahkan, semakin dia panik,
langkah kakinya semakin melayang. Semakin cepat, semakin terbawa
terbang.
Suasana alam sekejab mata berubah putih… putih, dan semua orang aneh itu
memakai pakaian putih-putih. Bersamaan itu langkah Virga terhenti. Dia
dapati dirinya sendirian agak jauh dari gerombolan orang-orang itu.
Aktivitas mereka tidak lagi mengusung peti, namun tengah mengelilingi
peti mati. Virga mendapati dirinya masih mengenakan pakaian semula.
Warna merah dipadu celana hitam.
Orang-orang itu tetap diam terpaku. Tidak sampai semenit, tiba-tiba asap
tipis keluar dari sela tutup peti mati. Dua detik kemudian, tutup peti
berlahan membuka dengan sendirinya. Hingga terbuka, blak! Berganti, dari
dalam peti keluar sosok bertubuh hitam. Wajahnya menakutkan. Penuh
luka. Bahkan sebuah anak panah masih menancap di bagian atas kepalanya.
Sekujur tubuhnya juga penuh luka bacokan. Darah hitam mengental terlihat
masih menetes di belahan lukanya. Dia berjalan mendekati Virga. Sekejab
itu bau anyir menebar ke mana-mana. Lebih dekat lagi, salah satu mata
sosok itu ternyata pecah. Seperti bekas tertancap anak panah. Tubuhnya
semakin dekat ke arah Virga.
Belum sampai semeter Virga tidak tahan lagi. Rasa takutnya sudah nyaris
di ambang batas. Seketika itu dia berguman. ”Tuhan makhluk apa yang
sedang saya hadapi ini…,” setelah itu dia tidak tersadarkan diri. Entah
berapa lama, entah di mana dirinya, ketika itu tidak tahu.
“Bangun-bangun Vir. Ibumu ada di sini,” lamat-lamat dia mendengar suara
orang tua membangunkannya. Dia lihat sekelilingnya ada beberapa orang,
termasuknya ibunya. Hari ketika itu sudah malam. Kembali dia tersadar.
“Aku kok di rumah,” ceplosnya tanpa sadar. “Ini Mbah Kodir Vir. Dia
orang pinter dari seberang desa. Sore tadi Martono menemukanmu pingsan
di bawah pohon sawo tua dekat tapal batas,” tutur ibunya.
“Kata Mbah Kodir kamu kesurupan ruh penunggu tapal batas. Perlu kamu
tahu. Di situ dulu menjadi tempat pertempuran kadipaten Sidosari dengan
Kalirejo. Banyak prajurit yang terbunuh di situ. Adipati Sidosari juga
tewas mengenaskan. Mayatnya dicacah-cacah, mata dicongkel. Prajurit
Kalirejo yang menang sangat membenci adipati Sidosari. Dia sangat kejam
terhadap rakyat Kalirejo. Tapi, rakyatnya sendiri sangat menghomati
dia,”.
Belum habis ibunya bercerita, Virga langsung lemas, ”Oh Tuhan. Ternyata
sosok itu arwah Adipati Sidosari!,” pekiknya langsung lemas. Setelah itu
dia tidak berkata-kata lagi. Tidur pulas dipangkuan ibunya.



Add



Facebook
[You must be registered and logged in to see this image.]
Kembali Ke Atas Go down
http://blank-on.yourme.net
 
Berkelana di Alam Arwah Tapal Batas
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Blank On Computer :: Beranda :: Cerita Horor-
Navigasi: